Makam Sultan Mahmudsyah

Makam Sultan Alaiddin Mahmudsyah

Sultan Alaiddin Mahmudsyahadalah Sultan Aceh yang kedua terakhir. Di masa beliau Belanda menyerang Aceh pada tahun 1873. Pada tanggal 24 Januari 1874 Van Swieten masuk ke Istana Sultan dengan harapan akan menjumpai Sultan dan memaksanya menyerahkan kekuasaan kepada Belanda. Namun Sultan sudah duluan meninggalkan istana dan mengungsi ke Lueng Bata.

Dalam pengungsiannya Sultan tetap memimpin penyerangan namun pada hari keempat pengungsiannya Sultan meninggal dunia karena kolera. Beliau dimakamkan di Pagar Ayer. Namun situasi peperangan yang selalu berubah menyebabkan makamnya digali dan dipindahkan ke daerah aman. Hal ini terjadi beberapa kali sampai akhirnya beliau dimakamkan di desa Tumbo, Samahani, Aceh Besar.

Menelusuri perjuangan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, saya (Mawardi Hasan) dengan Teuku Farhan menelusuri kembali mencari Makam Sultan. Petang hari tanggal 12 September 2011 kami menuju Samahani melalui Blang Bintang, Cot Mon Raya dan Sibreh menyusuri jalan kampung yang menurut orang-orang tua usianya lebih lama dari pada usia jalan raya sekarang. Setelah bertanya beberapa kali sampailah kami di Masjid Desa Tumbo, dan menunaikan Shalat Ashar di masjid tersebut. Di sana saya berjumpa dengan Pak Abidin, seorang kawan lama pensiunan Biro Rektor Unsyiah. Suasana menjadi akrab karena almarhum orang tua Teuku Farhan pun adalah kawan Pak Abidin. Selesai shalat beliau membawa kami ke makam Sultan yang jauhnya lebih kurang 1 km dari masjid tersebut. Kalau memang malas bertanya dan tidak ada penunjuk jalan, makam ini tidak akan dijumpai. Seharusnya pihak dinas terkait memberikan penunjuk arah mulai dari jalan negara sampai ke makam tersebut.

Komplek makam ini 200 meter agak ke dalam menyusuri jalan kecil dari tanah dan cetakan beton. Kawasan yang luasnya 100 m2 tidak terawat dan sekelilingnya ditumbahi belukar. Di bawah cungkup yang kondisinya sangat bagus dan khas Aceh serta pagar besi terdapat dua makam. Makam pertama dekat pintu masuk, sebelah timur seperti makam biasa, di atasnya hanya batu-batu mangga. Namun di sebelahnya terdapat makam setinggi 1.5 meter yang bentuk dan ukurannya mirip makam Sultan Iskandar Muda di Bapperis, Banda Aceh. Makam tersebut adalah Makam Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Pahlawan Aceh yang memimpin perang melawan Belanda. Namun nisan makam ini bukanlah makam asli lagi, nisannya adalah rekonstruksi baru sebagaimana juga makam Sultan Iskandar Muda.

 

Makam Jamaloy

Makam Sultan Jamaloy

Sultan Jamalul Alam Badrul Munir disebut juga Sultan Jamaloy naik takhta tahun 1704M adalah putera Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin, keturunan Arab. Sejak beliau memerintah penduduk hidup makmur, aman sentosa. Kepemimpinannya tidak disenangi oleh para Panglima Sagi, sehingga terjadilah pemberontakan pada tahun 1708-1726M menyebabkan Sultan Jamaloy lari ke Pidie. Sebagai penggantinya akhirnya diangkat Maharaja Lela asal Bugis menjadi Sultan (1727-1735M). Setelah Maharaja Lela mangkat, Sultan Jamaloy ingin merebut tahtanya kembali, namun mendapat serangan dari Pocut Ue, putra Maharaja Lela yang kemudian dinobatkan menjadi pengganti ayahnya tahun 1735M. Read more »

Makam TR Ibrahim

Makam Tuanku Raja Ibrahim

Makam Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah wafat pada hari Senin 1 Maret 1982 di Banda Aceh, dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Aceh, Baperis, Banda Aceh. Makam ini terletak di sudut komplek timur selatan berdampingan dengan makam ibu tirinya Hajjah Neng Effi (Keramik Putih).

Makam Hajjah Neng Effi

Makam Hajjah Neng Effi binti Pangeran Awal

Makam Hajjah Neng Effi binti Pangeran Awal bin Pangeran Sangiang bin Pangeran Jayakarta di Komplek Baperis Banda Aceh, di samping makam Tuanku Raja Ibrahim. Hajjah Neng Effi, Janda Almarhum Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah. Lahir tahun 1900 di Jakarta, dan meninggal dunia di Banda Aceh tanggal 10 Desember 1985. Pemakaman Hajjah Neng Effi d Komplek Pekuburan Raja-raja Aceh adalah atas permintaan dari anak-anak Almarhum Tuanku Raja Ibrahim kepada Gubernur Aceh waktu itu, yaitu Teuku Mohammad Hadi Thayeb.

Hajjah Neng Effi adalah istri kedua dari Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah yang dinikahinya di Batavia setelah bercerai dengan Teungku Putroe Gambar Gadeng binti Tuanku Abdul Majid ibunya Tuanku Raja Ibrahim. Ibu dari Neng Effi adalah dari keluarga Habib Al Habsyi di Kwitang Batavia. Teungku Putroe Gambar Gadeng kemudian juga dinikahi oleh salah seorang keluarga Sayed dari Habib Kwitang. Oleh sebab itu di dalam komplek Pekuburan Kemiri di Rawamangun kuburan Teungku Putroe Gambar Gadeng  berlainan petak lokasi dengan makam Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah.

Teungku Putroe Shafiatuddin Cahya Nur Alam

Beliau adalah Putri sulung yang banyak tahu tentang sejarah Tuanku Raja Ibrahim, kini berstatus seorang Janda yang tinggal bersama anak dan menantunya di Mataram, Lombok. Sebelumnya dia tinggal dirumah panggung kayu bekas yang lapuk bongkaran rumah orang lain, ketika tsunami rumah tersebut miring dan hampir roboh. Jika hujan perkarangan rumahnya banjir dan tergenang air, sangat sangat tidak layak, karena tidak ada perhatian dari pihak – pihak yang mendata untuk pembangunan rumah bantuan tsunami mau tidak mau dia tetap tinggal dirumah tersebut dengan beberapa cucunya.

Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Tuanku Raja Ibrahim Putra Mahkota Sultan Aceh Terakhir

Raja Aceh terakhir, Sultan ‘Alaidin Muhammad Daud Syah, tahun 1904 dibuang Belanda ke Jakarta. Dalam sejarah Aceh, Sultan Muhammad Daud atau biasa juga disebut Tuanku Muhammad Daud, resminya diangkat sebagai calon raja oleh Majelis Kerajaan Aceh semasa kanak-kanak — menggantikan pamannya Sultan Mahmud Syah yang meninggal tahun 1874. Majelis Kerajaan Aceh yang berkuasa menurunkan dan mengangkat raja Aceh itu terdiri dari Tuanku Raja Keumala, Tuanku Hasyem (sekaligus wali Tuanku Muhammad Daud) dan Teuku Panglima Polem.

Majelis ini menyerahkan kekuasaan — untuk memerintah dan memimpin Aceh melawan Belanda — kepada Teuku Tjhik Di Tiro. Ketika Tuanku Muhammad Daud ditawan Belanda, dia memberikan kekuasaan itu kepada Teuku Tjhik Mahyeddin Di Tiro (putera terakhir Teuku Tjhik Di Tiro). Belanda sendiri kemudian, menganggap perang Aceh usai pada 3 Desember 1911, sesaat Teuku Maat Tjhik Di Tiro (cucu Teuku Tjhik Di Tiro tewas di medan laga. Akan Sultan Muhammad Daud sendiri, setelah berpindah-pindah tempat pembuangan (Jakarta, Bandung, Ambon), tahun 1939 meninggal di Jakarta, tanpa pernah kembali ke tanah kecintaannya.


Raja terakhir ini punya seorang anak sulung, calon Putera Mahkota Kerajaan Aceh Raya, Tuanku Raja Ibrahim. Sebagai putera raja, kehidupan Abang (begitu kerabat dekat memanggilnya) cukup beragam. Pernah misalnya berkunjung ke negeri Belanda , karena Ratu Wilhelmina menyatakan ingin berjumpa dengan sang Raja Muda. Read more »

Ketika Sultan Dipaksa Menyerah

Sultan Aladiddin Muhammad Daudsyah dan Putra Mahkota Tuanku Raja Ibrahim menemui Perwakilan Pemerintah Belanda di Aceh ketika Sultan dipaksa menyerah.

Pada tanggal 26 November 1902, Teungku Putroe Gambar Gadeng binti Tuanku Abdul Majid bersama anaknya Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (6)  disandera oleh Belanda di Gampong Glumpang Payong Pidie. Tujuan penyanderaan ini agar Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1875-1939)  menyerah diri kepada Belanda. Akhirnya Sultan setelah bermusyawarah dengan penasihatnya datang dan bertemu dengan Belanda di Sigli. Pada 20 Januari 1903, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dibawa ke Kuta Raja menghadap Gubernur Aceh Jenderal Van Heutz dan menandatangani MoU damai dengan Belanda.

Saat itu, Sultan menjadi tahanan kota dimana dia hanya diperbolehkan bergerak bebas di Aceh Besar. Bahkan dibuatkan rumah tinggal, lengkap dengan perabotan dan menerima gaji bulanan sebesar 1.200 florin. Adapun anaknya mendapat biaya belajar dari Pemerintah Belanda. Semua fasilitas dan gaji yang diberikan dimaksudkan agar Sultan Muhammad Daud Syah membantu kepentingan Belanda di Aceh. Namun usaha tersebut ternyata hanya sia-sia.

Dari hasil penyelidikan intelijen Belanda, Sultan Muhammad Daud Syah memberi sumbangan dan dukungan kepada para pemimpin gerilyawan Aceh. Sultan memanfaatkan Panglima Nyak Asan dan Nyak Abaih sebagai perantara. Ketika tempat kediaman Sultan Muhammad Daud Syah digeledah pada Agustus 1907 ditemukan sejumlah surat milik sultan yang ditujukan kepada para pejuang. Di samping itu, terjadinya serangan kilat ke markas Belanda di Kuta Radja pada 6 Maret 1907 malam, secara tidak langsung juga diatur oleh Sultan Muhammad Daud Syah.(T. Ibrahim Alfian, 1999 : 141).

Pengaruhnya yang  masih sangat besar terhadap rakyat menyebabkan Gubernur Militer Aceh Letnan Jenderal  Van Daalen mengusulkan Sultan Muhammad Daud Syah dibuang  dari Aceh. Maka pada 24 Desember 1907, Belanda membuang Sultan Muhammad Daud Syah, isteri, anaknya Tuanku Raja Ibrahim, Tuanku Husin, Tuanku Johan Lampaseh, pejabat Panglima Sagi Mukim XXVI, Keuchik Syekh dan Nyak Abas (ke Ambon, Bandung, dan terakhir – Admin) ke Batavia dan menetap di Jatinegara (sekarang Gudang Bulog). (M. Adli Abdullah)

Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Sultan Tak Beristana

Oleh: M Adli AbdullahOpini

DALAM  catatan minggu ini, saya mengingatkan tragedi Sultan Aceh yang terakhir. Kisah Sultan Aceh memang banyak dikupas yang indah dan kemegahan yang melingkupi mereka. Ketika Sultan Aceh terakhir ini menghadapi penjajah Belanda, hidupnya sangat menderita. Ini tentu berbeda dengan raja-raja lain di Nusantara yang mengakui keberadaan penjajah kolonial. Mereka menerima kemegahan dan status sosial dari keturunannya. Terkait raja Aceh, kehidupan mereka jarang diangkat apalagi menjadi bahan diskusi kebudayaan Aceh.Ketika agresi kedua Belanda (Desember 1873) dipimpin oleh Letnan Jenderal Van Swieten berusaha membujuk Sultan  bersedia mengikat perdamaian dengan Belanda. Surat itu diantar oleh kurir Belanda yakni Mas Soemo Widikdjo pada 23 Desember 1873 bersama empat pengiringnya. Sultan tidak mengacuhkan tawaran itu dan memerintahkan kepada pasukan dan rakyat supaya memperhebat perlawanan di mana-mana. Membela tiap jengkal tanah dengan pengorbanan yang betapapun besarnya (Talsya:1981:38).

Prinsip orang nomor satu Aceh ini tidak mau melakukan perdamaian. Baginya, perdamaian mengakui keberadaan penjajah di tanah airnya. Damai berarti mengaku kalah. Akibatnya, Van Swienten terus mendesak ke istana dan memaksa Sultan Alaidin Mahmudsyah  (1870-1874) menyerah dan tunduk kepada Belanda.. Pada 24 Januari 1874, pukul  12 siang, Van Swieten masuk ke istana dengan harapan Sultan Alaidin Mahmudsyah ada di sana dan memaksa penyerahan kedaulatan Aceh kepada Belanda. Tetapi Sultan Alaidin Mahmudsyah pada pagi telah mengungsi ke Lueng Bata dengan membiarkan istana kosong. Read more »

Makam Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Makam Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Makam Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah

Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah Muhammad Daudsyah adalah Sultan Aceh terakhir yang dibuang oleh Belanda ke Ambon pada tahun 1907 dan kemudian dipindahkan ke Bandung dan setekah itu ke Batavia di Pisangan Lama. Beliau dimakamkan di pengasingan yaitu Pekuburan Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, pas bersebelahan dengan kampus Universitas Negeri Jakarta.